Cerita Mantan Presdir Astra, Mengulang Ujian 17 Kali Saat di ITB

TP Rachmat : bapak dan ibu sekalian... Terus terang, saya bukan tipe orang yang rajin belajar.

Cerita Mantan Presdir Astra, Mengulang Ujian 17 Kali Saat di ITB

Bisnis.com, JAKARTA – Pengusaha Theodore Permadi Rachmat dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kampus ITB Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/7/2019).

Dalam pidato penganugerahan gelar tersebut, pengusaha pendiri kelompok bisnis Triputra Group ini banyak mengungkapkan sisi menarik kehidupannya. Terutama yang berkaitan dengan jatuh bangun di jalur akademis.

"Bapak dan ibu sekalian... Terus terang, saya bukan tipe orang yang rajin belajar. Proses pendidikan di Departemen Teknik Mesin ITB tidak sepenuhnya mulus," katanya di hadapan promotor dan tamu undangan dalam prosesi penganugerahan doktor.

Dia melanjutkan, banyak juga rintangannya, termasuk saya ingat, saya harus mengulang ujian sebuah mata kuliah yaitu mata kuliah Teknik Pengatur. "Sampai 17 kali sebelum dinyatakan lulus."

Mengulang ujian 17 kali ternyata tidak menjadikan pria kelahiran 15 Desember 1943 ini patah arang. Bahkan, momen menjalani pendidikan di ITB diakuinya menjadi batu pijakan suksesnya.

Ia merasa bersyukur ditangani langsung pendidik yang memiliki jiwa mendidik luar biasa, dan memiliki standar yang tinggi. "Semua itu mengasah saya untuk tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, tidak mudah menyerah, dan berkomitmen terhadap pilihan hidup saya," katanya.

Menurutnya, pendidikan di ITB juga mengajarkan saya untuk menghormati dan menegakkan integritas melalui fakta dan data, mengukur dan menimbang sebelum berpendapat atau memutuskan. Tidak semata-mata bergantung pada opini atau informasi yang belum tentu benar.

Lebih lanjut dia menuturkan,"ITB mengajarkan kepada saua untuk memiliki nilai kepeloporan, kejuangan, pengabdian dan keunggulan. Keempat nilai itu, sungguh selaras dengan nilai pribadi saya. Secara sadar maupun tidak, sepanjang hidup saya, saya mengamalkan keempat nilai luhur tersebut."

Founder Triputra Group Theodore Permadi Rachmat (kiri) berpidato saat penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/7/2019). Institut Teknologi Bandung memberikan gelar Doctor Kehormatan (Honoris Causa) kepada Theodore Permadi Rachmat atas jasa membangun bisnis manufaktur dengan Engineering Values sebagai basis pengembangan budaya kerja dan menjadi budaya kerja unggul./Antara-M Agung Rajasa

Kontribusi Nyata

Pengusaha Theodore Permadi Rachmat yang akrab disapa TP Rachmat ini mendapatkan gelar doktor karena dinilai memberikan kontribusi nyata dalam memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Mantan bos Astra Group yang kemudian mendirikan Triputra Group itu juga dipandang sangat peduli terhadap kemakmuran, kesejahteraan, pendidikan, dan masa depan Indonesia.

TP Rachmat berperan besar menumbuhkan nilai-nilai perusahaan serta karakter dan pola pikir para karyawannya.

"Perubahan budaya tersebut dilaksanakan dengan mengedepankan pentingnya pengembangan modal insani (human capital) dalam membangun industri manufaktur modern di Indonesia," demikian pernyataan tim promotor ITB yang diketuai Prof. Dr. Andi Isra Mahyuddin.

Selain itu, TP Rachmat dinilai alumni ITB yang memiliki integritas tinggi dan mumpuni. Dia disebut berhasil menunjukkan manifestasi nilai-nilai ITB yaitu kepeloporan, kejuangan, pengabdian, serta keunggulan.

Nilai kepeloporan tercermin dari keberhasilannya menyelaraskan aspek bisnis, alih teknologi, sosial, dan pengembangan kualitas manusia. Secara khusus, TP Rachmat adalah salah satu inisiator Corporate University Astra Group.

Di sisi kejuangan, dia dipandang sukses membangun entitas bisnis yang etis dan peduli terhadap pengentasan kemiskinan dan ketidakterdidikan bangsa. Perusahaan-perusahaan yang pernah dipimpinnya, termasuk PT United Tractors Tbk., PT Astra Internasional Tbk., Triputra Group, dan Adaro Group disebut memberikan lapangan kerja bagi lebih dari 300.000 orang.

Di sisi pengabdian, TP Rachmat disebut peduli terhadap tumbuhnya profesionalisme dan entrepreneurship d Indonesia. Salah satunya diwujudkan melalui Yayasan Pelayanan Kasih A&A Rachmat yang didirikan pada 1999.

"Berdasarkan prestasi serta kontribusinya, tim promotor meyakini Theodore Permadi Rachmat telah menghasilkan karya nyata, pemikiran inovatif yang bermakna dan bermanfaat bagi perkembangan industri manufaktur, agribisnis, dan pertambangan," lanjut tim promotor.

Adapun tim promotor ITB ini mencakup Prof. Dr. Andi Isra Mahyuddin, Prof. Dr. Djoko Suharto, Prof. Dr. Ida I Dewa Gede Raka, Prof. Dr. Muljo Widodo Kartidjo, Prof. Dr. Bambang Riyanto Trilaksono, Prof. Dr. Tati Latifah R. Mengko, Prof. Dr. Rochim Suratman, Prof. Dr. Komang Anggayana, dan Prof. Dr. Utomo Sarjono Putro.

Penyerahan gelar Doktor Kehormatan ini dilakukan bersamaan dengan acara peringatan ke-99 Perguruan Tinggi Teknik Indonesia (PTTI). Peringatan tersebut merujuk pada berdirinya Technische Hoogeschool (TH) pada 1920, perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia, yang kemudian berubah menjadi ITB pada 1959.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
itb, tp rachmat