Ekonomi China Melambat, Pasar Saham Global Terkulai

Bursa saham global umumnya melemah pada perdagangan siang ini, Jumat (18/10/2019), pascarilis serangkaian data ekonomi dari China yang menunjukkan beragam hasil.

Ekonomi China Melambat, Pasar Saham Global Terkulai

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham global umumnya melemah pada perdagangan siang ini, Jumat (18/10/2019), pascarilis serangkaian data ekonomi dari China yang menunjukkan beragam hasil.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 meluncur 0,4 persen, sedangkan indeks futures S&P 500 turun 0,3 persen pada pukul 08.18 pagi waktu London (pukul 14.18 WIB).

Pada saat yang sama, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,5 persen dan indeks CAC 40 Prancis melorot 0,7 persen. Namun, indeks Borsa Istanbul 100 Turki mampu menanjak 3,5 persen.

Sementara itu, bursa Asia tergelincir menghapus kenaikan sebelumnya setelah ekonomi China dilaporkan membukukan pertumbuhan terlemah dalam hampir tiga dekade.

Dilansir dari Reuters, produk domestik bruto (PDB) China hanya tumbuh 6,0 persen year-on-year pada kuartal III/2019. Capaian ini lebih rendah dari pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 6,2 persen sekaligus menjadi laju terlemahnya dalam hampir tiga dekade.

Kinerja pada kuartal ketiga tersebut juga berada di ujung bawah target pertumbuhan ekonomi secara full year oleh pemerintah sebesar 6,0 persen – 6,5 persen serta lebih rendah daripada prediksi analis dalam survei Reuters sebesar 6,1 persen.

Kesehatan negara berekonomi terbesar di dunia ini menjadi perhatian khusus para mitra dagang dan investor ketika perang perdagangannya dengan Amerika Serikat memicu kekhawatiran tentang resesi global.

“Masih ada banyak ketidakpastian mengenai perjanjian perdagangan AS-China,” ujar Ho Woei Chen, ekonom di UOB, Singapura, dilansir melalui Reuters (Jumat, 18/10/2019).

Berbeda dengan angka PDB yang mengecewakan, produksi industri China tumbuh 5,8 persen pada September, menurut data Biro Statistik Nasional (NBS) China. Raihan ini lebih tinggi dari perkiraan para analis dalam survei Reuters sebesar 5,0 persen.

Penjualan ritel juga meningkat 7,8 persen year-on-year pada September setelah mencatat pertumbuhan 7,5 persen pada Agustus. Di sisi lain, investasi aset tetap melambat menjadi 5,4 persen sepanjang Januari-September 2019 dari 5,5 persen sepanjang delapan bulan pertama tahun ini.

Meski data tersebut meningkatkan prospek bahwa pembuat kebijakan China dapat mempersiapkan lebih banyak langkah untuk mendorong pertumbuhan, sebagian analis dan pelaku pasar mengatakan Beijing memiliki ruang relatif sedikit untuk pelonggaran yang signifikan.

"Jika ada langkah (kebijakan) jangka pendek (lebih tinggi) di Asia, itu akan benar-benar hanya menjadi penggerak jangka pendek karena PDB China tidak jauh dari angka 5 persen dan itu tidak akan baik untuk aset-aset berisiko,” ujar Greg McKenna, pakar strategi di McKenna Macro.

Menyusul laporan tersebut, bursa saham China pun mencatat penurunan harian tertajam dalam sebulan di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kesehatan negara berekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa saham, ekonomi china