Komunitas Diajeng Semarang Gelar Parade Kebaya

Komunitas Diajeng Semarang (KDS) berkolaborasi dengan Kedai Tiga Nyonya dan POJcity Semarang menggelar event Parade Kebaya 2019.

Komunitas Diajeng Semarang Gelar Parade Kebaya

Bisnis.com, SEMARANG – Komunitas Diajeng Semarang (KDS) berkolaborasi dengan Kedai Tiga Nyonya dan POJcity Semarang menggelar event Parade Kebaya 2019.

Kegiatan yang digelar dalam memperingati Hari Ibu 2019 ini dilaksanakan di Kedai Tiga Nyonya, Puri Anjasmoro, Semarang, Sabtu (13/12/2019), demikian keteranga pers tertulis yang diterima Bisnis pada Minggu (15/12/2019).

Dalam Parade Kebaya 2019 ini, selain di adakan kontes Pemilihan Ratu dan Puteri Kebaya 2019 se- Jawa Tengah, juga digelar parade kebaya, tarian kebaya,workshop kebaya, fashion show dan flashmob. Fashion show dalam ajang ini menaja kebaya-kebaya kekinian karya desainer-desainer muda Kota Semarang yang kreatif dan Inovatif yaitu; Inge Chu, Stefanie Wang dan Widya Andhika.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G. Rahayu mengatakan Pemkot Semarang sangat mengapresiasi dan berterima kasih pada semua pihak sehingga event penting ini.

“Pemkot Semarang berterima kasih kepada Komunitas Diajeng Semarang yang telah menginisiasi kegiatan Parade Kebaya ini,” ujar Wawa yang akrab disapa Mbak Ita ini.

Lebih lanjut dia mengutarakan seperti dalam konsep bergerak bersama, yaitu, unsur pemerintah, penduduk, pengusaha dan pewarta ibaratkan empat roda semuanya ikut bergerak, maka laju kendaraan semakin cepat.

“Maka dengan keikutsertaan warga nyengkuyung maka program pembangunan kota dalam hal ini pelestarian budayasebagai budaya asli Indonesia akan bertumbuhkembang kuat,” ujar Mbak Ita.

Dalam kegiatan Parade Budaya ini, lanjutnya, ada pemilihan rang atu dan putri kebaya yang dapat mengenalkan kebudayaan asli Indonesia , yaitu kebaya.

Di samping itu dengan adanya kontes ini, makin membuat peserta lebih kreatif. Kita menyadari pemakaian kebaya menjadi jarang ditemui, biasanya hanya dipakai dalam acara seremonial seperti; pernikahan dan wisuda.

“Padahal dulu kebaya merupakan pakaian sehari-hari. Bisa-bisa nantinya para generasi milenial tidak mengenal lewat buku dan museum. Jadi, kalau ada yang berpendapat negatif ini ajang pamer dan lomba kecantikan saya tak setuju,” tegas Wakil Wali Kota.

Apalagi dalam gelaran Parade Kebaya ini, lanjutnya, ada rangkaian edukasi kepada masyarakat berupa workshop yang mendatangkan narasumber dari Kasunan Gusti Kanjeng Ratu Wandansari.

”Kebaya bukan hanya sekadar pakaian, namun juga sarat dengan makna dan filosofi khusus. Kebaya merupakan ikon wanita Indonesia yang anggun dan berbudaya,” jelas Hevearita.

Ke depan, misalnya untuk memperingati Hari Kartini, tambahnya, bisa digelar event Kebaya Fashion On The Street di Car Free Day (CFD), Jalan Pahlawan, yang akan lebih banyak melibatkan masyarakat.

Sebelumnya, Ketua Panitia Parade Kebaya 2019 Valentina dalam laporannya mengatakan sangat bangga dengan wanita-wanita Kota Semarang yang mengapresiasi kegiatan Parade Kebaya 2019 ini.

“Kebaya yang merupakan kebudayaan asli harus terus ditumbuhkembangkan dan diperjuangkan, karena banyak negara lain yang juga mengkalim kalau kebaya merupkan budayanya,” ujar Valentina.

Untuk itu, dalam kegiatan Parade Budaya ini, lanjutnya, selain Pemilihan Ratu dan Puteri Kebaya KDS 2019, juga digelar edukasi berupa workhop, juga ada fashion, tari kebaya dan flashmob. “Bangga berkebaya perlu terus kita suarakan dan agar lebih memasyarakat,” ajak Valentina.

Founder Komunitas Diajeng, Maya Diana K. Dewi, mengatakan kegiatan Parade Kebaya ini merupakan salah cara untuk merayakan kebaya.

“Kami dari KDS tak hanya menselerbrasikan kebaya, tetapi juga punya komitmen menumbuhkembangkan dan melestarikan budaya asli indonesia kebaya dan yang lainnya, seperti jarik dan batik,” paparnya.

Jeng Maya. sapaan akrabnya, menambahkan KDS juga ingin menjadi agen perubahan, terus bergerak untuk mengenalkan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa kita.

”KDS membukukan prestasi 1.000 orang berjarik yang dapat penghargaan rekor Muri. Kemudian November lalu, KDS mempromosikan jarik dan batik ke Singapura,” ujar Maya mencontohkan.

Sementara itu, Gusti Mung, dalam workshop mengatakan kebaya memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Menurut Gusti Mung, kalau menilik sejarahnya kebaya tak hanya dipakai oleh orang jawa saja

Dia mencontohkan kalau belum bersuami tak boleh pakai kebaya panjang. Demikian juga tak sembarang orang boleh pakai kebaya berbahan beludru hanya boleh dipakai permaisuri.

“Jadi, semua itu dalam adat keraton ada tatanannya. Kalau dalam lingkungan keraton harus berpegang pada adat dan tata cara yang berlaku,” kata Gusti Mung.

Sementara itu, Dewi Diandini berhasil memboyong piala bergilir Atiqoh Ganjar Pranowo (Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah), setelah dalam grand final berhasil menyisihkan finalis lainnya dan ditetapkan sebagai juara pertama dan sekaligus juara umum dalam helat Parade Kebaya 2019.

Berhasil menduduki juara kedua Eny Haryanti dan juara ketiga Kristiana, sedangkan Dian Masruroh merupakan Ratu Berkebaya Terfavorit KDS 2019.

Dalam gelaran Parade Kebaya ini juga ditaja kontes Pemilihan Putri Kebaya KDS 2019. Tampil menyabet juara pertama Heni Nur Laila, menyusul duduk sebagai juara kedua dan ketiga masing-masing Septian Rinata dan Rizka Fahriana Putri. Sedangkan Maria Rachel Virginia terpilih sebagai juara favorit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kebaya, seni budaya